Pelatihan Pemanfaatan Ikan Lele Untuk Pembuatan Empek Empek Dan Tekwan
Studi pada Anggota Kelompok Perikanan Budidaya Lele Desa Babakan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor

By Redaksi 17 Mei 2018, 15:03:35 WIB | dibaca: 91 pembaca 

Pelatihan Pemanfaatan Ikan Lele Untuk Pembuatan Empek Empek Dan Tekwan

BOGORnews.com ::: ABSTRAK - Kabupaten Bogor menjadi salah satu dari 197 kabupaten/kota yang ditetapkan menjadi kawasan minapolitan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berdasarkan Surat Keputusan Bupati Bogor No.523.31/227/Kpts/Huk/2010. Kegiatan perikanan budidaya air tawar di kawasan minapolitan tersebut sudah berkembang. Namun, hasil budidaya ikan diolah menjadi produk olahan ikan jika ada kelebihan produksi, padahal pengolahan ikan dapat menambah nilai jual komoditasi perikanan. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah melatih anggota kelompok perikanan budidaya ikan lele untuk mengolah ikan lele menjadi empek-empek dan tekwan. Pelatihan diadakan pada September dan Oktober 2017. Masyarakat Desa Babakan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor sangat antusias mengikuti program pelatihan ini. Kondisi pengetahuan masyarakat sebelumnya belum mengenal secara baik empek-empek dan tekwan meliputi bahan baku pembuatan dan cara pengolahannya. Setelah mengikuti pelatihan, mereka menjadi paham tentang pengolahan empek-empek dan tekwan. Hasil monitoring dan evaluasi menunjukkan bahwa masyarakat masih perlu dorongan khusus untuk mempraktikkan cara pengolahan empek-empek dan tekwan pascapelatihan.

Kata kunci: pelatihan, ikan lele, empek-empek, tekwan

Pendahuluan - Kabupaten Bogor menjadi salah satu dari 197 kabupaten/kota yang ditetapkan menjadi kawasan minapolitan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Bogor No.523.31/227/Kpts/Huk/2010, lokasi yang dipilih sebagai kawasan minapolitan ada empat kecamatan, yakni Kecamatan Ciseeng, Parung, Gunung Sindur, dan Kemang. Sebagai minapolis atau pusat kotanya dipilih Kecamatan Ciseeng, sedangkan tiga kecamatan lainnya merupakan kawasan pendukung (Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, 2015). Salah satu desa yang terpilih di Kecamatan Ciseeng adalah Desa Babakan. Kantor Desa Babakan dapat dilihat pada Gambar 1.

Kegiatan perikanan budidaya air tawar di kawasan minapolitan tersebut sudah berkembang.  Potensi lahan untuk kegiatan perikanan budidaya di kawasan minapolitan Kabupaten Bogor adalah seluas 2.592,5 ha. Komoditas unggulan di kawasan minapolitan adalah ikan lele.  Saat ini Kabupaten Bogor merupakan penghasil lele terbesar di Jawa Barat. Kawasan Minapolitan Lele Kabupaten Bogor berbasis kelompok dalam suatu kawasan sehingga semuanya dapat diintegrasikan dengan mudah dan memiliki dampak ekonomi bagi pengembangan kawasan itu sendiri (Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, 2015).

Selama lima tahun terakhir (2010-2014), produksi lele di Kabupaten Bogor terus mengalami peningkatan dengan kenaikan rata-rata 30% per tahun, diikuti dengan ikan mas, nila, gurame dan patin. Produksi lele pada tahun 2014 di Kabupaten Bogor mencapai 79.640,83 ton, di mana kawasan minapolitan memberikan kontribusi sebanyak 54.726,02 ton (68,72%). Data ini didukung oleh jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) sebanyak 2.134 kepala keluarga dan luas lahan sebesar 807,53 ha. Warung pecel lele rata-rata membutuhkan 7-8 kg lele semalam atau 210-240 kg lele/bulan/warung. Daerah Jabotabek membutuhkan pasokan lele sebanyak 150 ton/hari. Potensi pasar yang tinggi ini memang menjanjikan bagi petani pembenihan dan pembesaran lele (Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, 2015). Kondisi kolam ikan di Kecamatan Ciseeng dapat dilihat pada Gambar 1, dan jenis ikan lele yang dibudidayakan pada Gambar 2 (a dan b).

Gambar 1. Kantor Desa Babakan, Kecamatan Ciseeng

Gambar 2a. Kondisi Kolam Ikan di Desa Babakan Kecamatan Ciseeng

       (Sumber: google image)

Gambar 2b. Kondisi Kolam Ikan di Desa Babakan, Kecamatan Ciseeng

Hasil penelitian Winata dan Yuliana (2010) menjelaskan bahwa pengolah ikan adalah salah satu profesi yang ditekuni oleh masyarakat pesisir dengan (24%), setelah nelayan tangkap (46%) dan pedagang ikan (30%). Pengolahan ikan merupakan salah satu aspek pascapanen perikanan yang dapat dikembangkan di Desa Babakan oleh para ibu-ibu atau remaja putri. Karena ikan lele merupakan komoditas unggulan di Desa Babakan, maka diversifikasi produk olahan lele dapat dikembangan untuk meningkatkan nilai tambahnya.

Ikan lele (Clarias sp.) berasal dari famili Claridae. Secara alami ditemukan di berbagai tempat di Afrika dan timur Tengah. Ikan lele hidup di air tawar yang tenang serta kubangan buatan manusia, bahkan mampu bertahan hidup dalam saluran air buangan. Ikan lele banyak dibudidayakan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) sebagai sumber pangan.

          Empek-empek dan tekwan adalah produk olahan ikan yang berasal dari Sumatera Selatan. Ikan yang dimanfaatkan untuk empek-empek dan tekwan biasanya adalah ikan tenggiri (Scomberomorus commerson), karena ikan tenggiri mempunyai tekstur daging yang lembut dan berwarna putih. Ikan lele mempunyai kesamaan warna daging yang hampir sama dengan ikan tenggiri, meskipun ikan lele hidup di air tawar. Pengolahan daging ikan lele menjadi empek-empek dan tekwan merupakan inovasi baru dalam pengolahan hasil perikanan. Namun, ada harapan bahwa diversifikasi ini dapat menarik perhatian masyarakat.

Hasil penelitian Yuliana (2012) menjelaskan bahwa pengolah seperti halnya petani mengadopsi teknologi melalui beberapa tahapan sebelum pengolah menerima dan menerapkan teknologi tersebut dengan keyakinannya sendiri. Tahapan tersebut adalah 1) kesadaran; 2) tumbuhnya minat; 3) penilaian; 4) mencoba; 5) menerima. Struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang, yaitu komponen kognitif, komponen afektif dan komponen konatif. Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap, komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut emosional dan komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai sikap yang dimiliki seseorang (Azwar 2002).

Sebagai inovasi baru, pengolahan ikan lele menjadi empek-empek dan tekwan membutuhkan waktu penyesuaian di masyarakat. Sosialisasi dan pendampingan masyarakat diperlukan untuk membuat produk ini diterima oleh masyarakat.

Strategi dan solusi yang ditawarkan kepada masyarakat adalah:

1. Pemberian pengetahuan kepada pengolah ikan, yaitu:

  1. Kriteria ikan segar dan penanganannya.
  2. Pentingnya diversifikasi produk olahan ikan.
  3. Pembuatan empek-empek dan tekwan dari ikan lele.

2. Pemberian keterampilan kepada petani dan peternak

Keterampilan yang diberikan kepada pengolah ikan adalah pembuatan empek-empek dan tekwan berbahan dasar ikan lele. Proses pembuatan empek-empek dan tekwan dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2.

Tabel 1.  Proses pembuatan empek-empek

No.

Alat, Bahan dan Prosedur

Keterangan

1.

Alat

Blender, panci, penggorengan, telnan, baskom, sendok besar, sendok sayur, saringan

2.

Bahan

Empek-empek:

Ikan lele, tepung sagu tani, tepung terigu, garam,  air bersih 250, telur ayam.

Kuah/cuka pempek:

Gula jawa aren, bawang putih kating, air asam jawa, air bersih, bawang putih, cabai rawit sesuai selera, kecap asin, ebi kering, timun.

3.

Prosedur

Proses pembuatan empek-empek adalah sebagai berikut.

  1. Membuat lem dengan cara mencampurkan dua sendok makan sagu dan air 1/2 gelas belimbing, lalu dipanaskan hingga menjadi lem.

  2. Memasak air terlebih dahulu sampai mendidih.

  3. Membuat adonan mpek-mpek menyiapkan 250 ml air, ditambahkan dua sendok teh garam, diaduk sampai merata, lalu dimasukkan 300 g daging ikan yang sudah diblender, dua butir telur dan lem. Semua bahan diaduk lagi hingga merata.

  4. Menambahkan 125 g tepung terigu dan 200 g tepung sagu. Adonan diuleni hingga merata.

  5. Membentuk adonan menjadi eempek-mpek kapal selam atau lenjer.

  6. Memasukkan adonan yang sudah dibentuk-bentuk ke dalam air mendidih, dan empek-empek yang sudah matang akan mengambang setelah 10 menit perebusan. Empek-empek yang sudah matang, diangkat dan tiriskan.

  7. Empek-empek siap untuk disantap tanpa digoreng atau digoreng terlebih dahulu. Penyajiannya adalah dengan meletakkan empek-empek di piring, di atasnya ditaburkan ebi kering secukupnya dan potongan timun.

 

Tabel 2.  Proses pembuatan tekwan

No.

Alat, Bahan dan Prosedur

Keterangan

1.

Alat

Blender, panci, penggorengan, telnan, baskom, sendok besar, sendok sayur, saringan

2.

Bahan

Tekwan (ikan lele, garam,  air es, telur ayam, tepung sagu tani); Kuah (bawang merah, bawang putih, udang besar buang kepalanya dihaluskan, garam, air bersih,

merica bubuk, cuka empek-empek); Pelengkap (potongan daun seledri dan bawang daun, jamur kuping diris-iris, bengkuang diiris panjang menyerupai batang korek api, bawang goreng, bunga sedap malam kering.

3.

Prosedur

Tekwan:

  1. Membuat adonan tekwan dengan mencampurkan 500 g ikan, garam 1 sendok makan dan 1 butir telur. Lalu campurkan dengan 200 ml air es, aduk sampai merata. Ditambahkan sagu 300 g, aduk lagi sampai merata.

  2. Membentuk adonan tekwan menjadi bulat-bulat kecil dengan menggunakan sendok atau bisa dengan menggunakan tangan. Sebelumnya tangan ditaburi dulu dengan sagu.

  3. Memasukkan adonan yang sudah dibentuk ke dalam air mendidih.

  4. Bulatan tekwan ditunggu menjadi mengambang selama 5 menit, lalu diangkat dan ditiriskan.

 

A. Target Luaran

Setelah pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, diharapkan ada beberapa luaran yang dapat terwujud, yaitu:

1. Masyarakat mitra mendapatkan keuntungan berupa:

  1. Memiliki wawasan dan pengetahuan tentang kesegaran ikan dan penanganannya, serta diversifikasi olahan ikan.
  2. Memiliki keterampilan pengolahan empek-empek dan tekwan.

  3. Tumbuh kesadaran dan perubahan sikap untuk memulai kegiatan diversifikasi produk olahan ikan dengan memanfaatkan potensi sumber daya ikan lele.

2. Laporan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bagi dosen Universitas Terbuka (UT).

3. Kerja sama antara Universitas Terbuka dan kelompok budidaya ikan lele di Desa Babakan, Kecamatan Ciseeng.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan oleh Tim Dosen Program Studi Agribisnis Fakultas MIPA UT sebagai bentuk pelaksanaan salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi. Tim Dosen tersebut memiliki pengalaman dalam memberikan pelatihan dalam pengolahan empek-empek dan tekwan. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan oleh Ketua dan Anggota Tim yang sudah sering melaksanakan kegiatan penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat di bidang perikanan. Tim pengusul sudah terbiasa dalam kerja sama tim sehingga diharapkan dapat melaksanakan kegiatan ini dengan baik.

Latar belakang pendidikan tim pengusul berasal dari berbagai disiplin ilmu, yaitu perikanan, ilmu lingkungan, dan peternakan. Semuanya terkait dengan kegiatan pengolahan pascapanen. Dukungan inilah yang meyakinkan tim pengusul akan keberhasilan kegiatan ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pembuatan Empek-empek

Pelaksanaan kegiatan penyuluhan pembuatan empek-empek dilakukan pada tanggal 5 Oktober 2017. Dihari oleh 30 peserta yang terdiri atas ibu-ibu anggota kelompok pembudidaya ikan. Mereka antusias mengikuti penyuluhan kegiatan pembuatan empek-eempek. Penyuluhan dilakukan di tempat tinggal Bapak Khairul, salah seroang warga Desa Babakan.

Pelaksanaan penyuluhan dimulai pada pukul 10.00 WIB, dilakukan dalam beberapa tahap sebagai berikut.

a. Pembukaan

Sebelum acara pelatihan dimulai, ada pembukaan pelatihan yang dilakukan oleh tim PkM sebagai instruktur pelatihan. Pembukaan diawali dengan perkenalan oleh tim PkM dan menjelaskan tujuan PkM. Sekilas dijelaskan pula tentang Universitas Terbuka (UT) dan kegiatan-kegiatan UT dalam proses pembelajaran, penelitian, dan PkM.

b. Pelaksanaan pre-tes

Untuk mengidentifikasi pemahaman peserta pelatihan, terlebih dulu dilakukan pre-tes. Hasil pre-tes berguna untuk mengarahkan materi penyuluhan yang akan disampaiakn. Pre-tes dilakukan dengan menyebarkan soal pre-tes dan dikerjakan oleh setiap peserta. Dari hasil pengerjaan pre-tes diketahui bahwa beberapa peserta belum mengenal empek-empek dan bahan dasarnya, serta cara membuatnya.

c. Penyuluhan tentang kriteria ikan segar

Tujuannya untuk memberikan wawasan tentang kriteria ikan segar. Gambar 3 menjelaskan suasana peserta ketika mendengarkan penyuluhan tentang ikan segar. Disampaikan pada penyuluhan ini bahwa kesegaran ikan merupakan dasar dari berhasilnya makanan yang dibuat dari ikan. Jika ikan sudah tidak segar, maka produk yang dihasilkan juga kurang enak dinikmati. Untuk menghasilkan makanan yang mempunyai sumber protein tinggi, kesegaran ikan juga memegang peranan penting.

d. Penyuluhan pembuatan empek-empek

Penyuluhan dilakukan dengan menjelasakan prosedur pembuatan empek-empek secara umum, meliputi penggilingan daging, pencampuran dengan tepung sagu, pembentukan empek-empek, perebusan, dan pembuatan cuka empek-empek.

e. Praktik pembuatan empek-empek

Peserta pelatihan dibagi menjadi lima kelompok untuk mempraktikkan prosedur pembuatan empek-empek. Satu kelompok terdiri atas enam orang. Dua kelompok mempraktikkan pembuatan empek-empek berbahan dasar ikan tenggiri, dan tiga kelompok menggunakan bahan dasar ikan lele. Tujuannya adalah membandingkan rasa empek-empek yang berbahan dasar ikan lele dengan empek-empek ikan tenggiri. Setelah pembuatan empek-empek selesai, peserta pelatihan dengan para pelatih menikmati empek-empek yang sudah jadi. Empek-empek yang berbahan dasar ikan lele cukup memuaskan.

f. Pos-tes

Pos-tes dilakukan di akhir penyuluhan. Setelah dilakukan pelatihan pembuatan empek-empek, para peserta memahami prosedur pembuatan empek-empek dan bahan-bahan dasarnya.

Gambar 3.  Peserta penyuluhan tentang kesegaran ikan

Gambar 4. Peserta pelatihan mempraktikkan pembuatan empek-empek

Gambar 5. Proses perebusan empek-empek dan cuka

 

B. Pembuatan Tekwan

Pelatihan pembuatan tekwan dilaksanakan pada tanggal 2 November 2017. Pelatihan bertempat di rumah Bapak Mad Iwan, salah seroang Ketua RW di Desa Babakan dan dihadiri oleh 30 peserta. Pelaksanaan penyuluhan pembuatan tekwan dimulai pada pukul 11.00 WIB dengan tahapan yang sama dengan penyuluhan pembuatan empek-empek.

Gmbar 6. Penjelasan tentang pembuatan tekwan

Gambar 7. Praktik pembuatan tekwan

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Azwar S. 2002. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor. 2015. Profil Kawasan Minapolitan Kabupaten Bogor. http://disnakan.bogorkab.go.id/index.php/multisite/post/ 2135/profil-kawasan-minapolitan-kabupaten-bogor#.WbDiY9FLfDc (Diakses tanggal 7 September 2017)
  • Winata A dan Yuliana E. Peran masyarakat pesisir dalam penerapan strategi konservasi sumberdaya laut (Kasus di Kelurahan Palabuhanratu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi). Jurnal Matematika, Sains, & Teknologi11 (2): 122-132.
  • Yuliana E, Indrawati E, Farida I. 2007. Kontribusi industri pengolahan hasil perikanan tradisional terhadap pendapatan nelayan pengolah. Jurnal Matematika, Sains, & Teknologi 8 (1): 41-51.
  • Yuliana E. 2012. Sikap pengolah dalam menentukan produk ikan asin. JPHPI 15 (1):    1-8.

 

Penulis

Ernik Yuliana, Nurhasanah, Anak Agung Made Sastrawan Putra, Ida Malati Sadjati, Sri Yuniati Putri Koes Hardini

Fakultas FMIPA Universitas Terbuka - Jl. Cabe Raya Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan











Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Media Digital Bogor Radio


>>>Download MDB Radio APP<<<

Script Link MDB Radio

Temukan juga kami di

Jejak Pendapat

Kota Bogor Menurut Anda Saat Ini ?
  Bertambah Indah
  Bertambah Bersih
  Bertambah Macet
  Tidak Perduli

Komentar Terakhir

  • frank

    Ini adalah untuk menginformasikan publik umum laki-laki atau perempuan yang sehat dan ...

    View Article
  • poinqq

    sudah lama gak jalan"ke bogor, bogor apakabar mas? ada yang baru gak mas di ...

    View Article
  • Joe

    I study this text. I suppose You placed a lot of attempt to create this article. I ...

    View Article


BOGOR WEBSITE